SUKSESFINANSIAL.ID — Dokter spesialis gizi klinik dr. Putri Sakti, M.Gizi, Sp.GK, AIFO-K menegaskan kafein dan minuman manis tidak bisa menggantikan air putih untuk menjaga hidrasi tubuh, terutama saat cuaca panas. Kedua jenis minuman itu justru berisiko memperparah dehidrasi karena memicu ginjal mengeluarkan cairan lebih cepat.
Kandungan kafein pada kopi dan teh pekat memiliki efek diuretik ringan, yakni merangsang ginjal mengeluarkan cairan lebih cepat melalui urine. Sementara minuman manis dengan kadar gula tinggi menarik cairan keluar dari sel-sel tubuh ke saluran pencernaan. Menurut Putri, kondisi itu membuat tubuh justru membutuhkan lebih banyak air untuk memproses gula, sehingga rasa haus datang lebih cepat.
"Tidak bisa karena minuman-minuman tersebut justru berisiko memperparah dehidrasi saat cuaca panas," kata Putri kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Beban Ganda Minuman Berenergi pada Jantung dan Ginjal
Putri menyoroti minuman berenergi yang memiliki komposisi kafein dan gula tinggi. Kombinasi itu, menurut dia, memberi beban ganda pada kerja jantung dan ginjal ketika suhu lingkungan sedang panas.
"Minuman berenergi memiliki komposisi tinggi kafein dan gula memberi beban ganda pada kerja jantung dan ginjal saat suhu lingkungan sedang panas," ujar dokter gizi lulusan Universitas Indonesia itu.
Prinsip Minum Sebelum Haus dan Target 2,5 Liter per Hari
Untuk mencegah dehidrasi, Putri menyarankan penerapan prinsip minum sebelum haus. Asupan cairan juga perlu ditingkatkan saat beraktivitas di tengah cuaca terik.
"Bawa botol minum atau tumbler sendiri, siapkan target minimal 2 hingga 2,5 liter per hari, dan tambahkan porsinya jika beraktivitas berat di bawah terik matahari," tutur dia.
Selain air putih, ia menyarankan konsumsi buah dan sayur kaya air seperti semangka, melon, jeruk, timun, selada, atau sup berkuah bening. Pilihan itu memberi asupan cairan sekaligus mineral alami bagi tubuh.
Pakaian Terang hingga Pelindung Fisik dari Sinar Matahari
Langkah sederhana lain untuk mencegah dehidrasi saat musim kemarau adalah mengenakan pakaian berbahan katun ringan, longgar, dan berwarna terang. Warna gelap menyerap panas lebih banyak sehingga mempercepat kenaikan suhu tubuh.
"Gunakan pelindung fisik seperti pakai topi bertepi lebar atau payung, kacamata hitam, serta sunscreen agar suhu tubuh tidak cepat naik akibat paparan sinar matahari langsung," ujar dia.
Mengapa Cuaca Panas Mempercepat Kehilangan Cairan
Putri menjelaskan, suhu udara tinggi saat musim kemarau memicu tubuh mengeluarkan keringat lebih banyak sebagai mekanisme alami mendinginkan diri atau termoregulasi. Udara kering turut mempercepat penguapan cairan tubuh lewat pernapasan dan kulit tanpa disadari, atau disebut insensible water loss.
"Jika cairan yang keluar tidak segera digantikan, tubuh akan mengalami defisit cairan atau dehidrasi," ujar dia.
Peringatan itu sejalan dengan imbauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) agar masyarakat waspada dan melakukan langkah antisipasi menghadapi kemarau yang lebih panjang serta kering. El Nino diperkirakan baru mulai meluruh pada awal tahun 2027.