Purbaya Sebut Pertumbuhan Kredit Era Jokowi Hanya 7%, Kalah dari SBY yang Capai 22%

Jumat, 04 September 2026 | 03:56:02 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan soal pertumbuhan kredit dalam dua era pemerintahan di hadapan para ekonom, Kamis (3/9).

SUKSESFINANSIAL.ID — Laju pertumbuhan ekonomi yang digerakkan swasta disebut mandek selama satu dekade terakhir. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, sektor non-pemerintah tumbuh lamban karena instrumen fiskal dan moneter lebih banyak berpihak pada belanja negara ketimbang memberi ruang ekspansi bagi dunia usaha.

"Pada zaman 10 tahun terakhir itu boleh dibilang private sector atau non-government sector tumbuhnya amat lambat atau kebijakan fiskal dan moneter tidak mendukung sektor di luar pemerintahan," ujarnya di hadapan para ekonom, Kamis (3/9).

Perbandingan M0 dan Kredit di Dua Era

Purbaya tidak berhenti pada kritik normatif. Ia membeberkan data pembanding pertumbuhan uang primer (base money/M0) dan penyaluran kredit yang menjadi indikator utama denyut aktivitas swasta.

Sepanjang pemerintahan SBY (2004-2014), M0 tumbuh rata-rata 18 persen per tahun dan kredit perbankan melaju 22 persen. Angka itu kontras dengan catatan era Presiden Jokowi: M0 hanya bertumbuh sekitar 7 persen, sementara kredit merangkak tipis di kisaran 5-7 persen.

"Kalau hitungan kita waktu zaman Pak SBY itu base money tumbuhnya rata-rata 18 persen lah, kredit tumbuhnya 22 persen selama 10 tahun rata-rata. Waktu zaman Pak Jokowi M0 tumbuhnya sekitar 7 persen, kredit juga 5-7 persen," papar Purbaya.

Dua Mesin Ekonomi yang Tak Pernah Jalan Bersamaan

Purbaya menilai perbedaan tajam itu bukan kebetulan. Setiap era punya pendekatan mesin penggerak ekonomi yang dikultuskan secara berbeda, dan keduanya dinilai tidak pernah berjalan simultan.

Zaman SBY, kata dia, pemerintah cenderung ekspansif dan memberi gas penuh pada sektor usaha. Sebaliknya, era Jokowi justru mengandalkan belanja negara dan pembangunan infrastruktur sebagai motor utama, sehingga posisi swasta tergerus.

"Zamannya Pak SBY naik terus, terlalu ekspansif, tapi zamannya Pak Jokowi non-government sektornya memble. Kalau sekarang kita jalankan dua-duanya," tegas mantan ekonom Bank Danamon itu.

Strategi Baru: Swasta dan BUMN Berjalan Berdampingan

Purbaya mengklaim pemerintahan saat ini sudah menemukan formula berbeda. Alih-alih memilih salah satu mesin pertumbuhan, ia berkomitmen menghidupkan peran negara dan swasta secara bersamaan.

"Selama 20 tahun terakhir ini, kita selalu bincang, waktu zamannya Pak SBY non-government sektor. Zamannya Pak Jokowi government led aja. Sekarang kita coba hidupkan dua-duanya. Sepertinya hampir berhasil," ujar Purbaya.

Pernyataan itu muncul setelah sebelumnya ia mengingatkan target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027 mustahil tercapai tanpa investasi nasional yang dinaikkan hingga 7 persen.

Dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Selasa (1/9), Purbaya menyebut kolaborasi tiga aktor menjadi kunci: pemerintah sebagai katalisator, swasta sebagai motor utama, dan Danantara untuk pembiayaan sektor strategis serta hilirisasi.

"Target ini akan dicapai melalui kolaborasi pemerintah, swasta, dan Danantara," ujarnya.

Tags

Terkini